KETERLIBATAN AMERIKA DALAM PEMBERONTAKAN DI INDONESIA TAHUN 1965 | Journal Miss Greget

KETERLIBATAN AMERIKA DALAM PEMBERONTAKAN DI INDONESIA TAHUN 1965




BAB II
KETERLIBATAN AMERIKA SERIKAT DALAM PEMBERONTAKAN PKI di INDONESIA

A.   Amerika dan Kemerdekaan Indonesia

Keterlibatan Amerika dalam politik Indonesia sebenarnya telah dimulai tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya. Keterlibatan ini terjadi ketika Indonesia dan Belanda melakukan negosiasi yang berkaitan dengan pengakuaan kemerdekaan dan kedaulatan serta penetapan batas-batas wilayah. Saat itu sebenarnya Indonesia dan  Amerika sangat kuat menentang kolonialisme. Meskipun demikian, anti kolonialisme semakin diabaikan secara diam-diam di bawah pemerintahan presiden S.Truman (1945-1953) mendukung upaya pendudukan kembali Indonesia ini oleh pemerintah kolonial Belanda.(Baskara T.Wardaya.2007.hal 78-79) Ada beberapa alasan bagi posisi demikian:
Pertama, ketakutan akan komunisme.
Kedua, pentingnya Indonesia bagi kepentingan ekonomi Belanda. Indonesia  yang kaya akan SDA telah menjadi sumber utama ekonomi Belanda.
Ketiga, kepentingan ekonomi Amerika. Ada sejumlah perusahaan Amerika yang kini beroperasi di Sumatra. Keberadaan Belanda akan menjamin keamanan perusahaan-perusahaannya. Para pejabat Amerika khawatir bahwa kepergian Belanda dari Indonesia akan mendorong negeri baru itu menasionalisasikan perusahaan asing milik Amerika.( Baskara T.Wardaya.2007.hal 81 dalam Kahin and Kahin.hal 29-30).

B.   Amerika Setelah Kemerdekaan Indonesia

Untuk beberapa saat ini, alasan diatas menjadi penentu bagi sikap AS terhadap Indonesia. Namun, akhirnya sikap itu berubah. Ada dua perubahan yang mendorng perubahan itu. Pertama, Keberhasilan Indonesia dalam mengatasi peristiwa Madiun 1948.  Kedua,  militer Belanda terhadap Indonesia dalam mengatasi agresi pertama (Juli-Agustus 1947) dan Agresi kedua (Desember 1948). Berdasarkan dua pertimbangan itu, banyak pejabat AS mulai meninjau kembalidukungan mereka terhadap Belanda dan mulai menunjukan dukungan tehadap Indonesia. Kemudian mereka menekan Menlu Dean Acheson yang selalu mendukung kepentingan Belanda. Acheson pun setuju bahwa AS membantu perundingan Indonesia-Belanda yang disponsori PBB yang disebut KMB yang diadakan di Den Haag pada 1949. Pada sidang KMB Indonesia dituntut untuk membayar utang kepada Belanda sebesar 1,3 Milyar Amerika,
Sejak diakhirinya KMB hubungan Amerika-Indonesia membaik. Namun hal ini tak bertahan lama yang disebabkan Duta Besar Amerika pertama membujuk pemerintah Indonesia untuk meninggalkan prinsip Non-Bloknya dan memihak blok Barat. Namun pemerintah AS berbohong kepada pemerintah RI dalam bentuk bantuan ekonomi yang pemerintah RI tak sadar didalamnya telah menyetujui untuk memihak Blok Barat.

C.   Eisenhower dan Pemberontakan Daerah

Keinginan Amerika untuk memulihkan hubungan dengan Indonesia sama besarnya dengan tanggungjawabnya kepada Inggris dan Malaysia. Soekarno dan banyak pemimpin lainnya di Indonesia menginginkan bantuan Amerika dan menantang Malaysia pada waktu yang bersamaan. Dan saat itu pula PKI sangat khawatir akan berpalingnya kiblat Indonesia ke AS. (M.C Ricklefs.2008.hal 566). Meskipun telah ada usaha perbaikan hubungan, dukungan Amerika terhadap kemerdekaan Indonesia terlihat menurun. Hal ini disebabkan dengan bagaimana Amerika menyikapi berbagai perkembangan politik yang terjadi di Indonesia. Pada awal tahun 1950-an, Soekarno semakin kuat pada prinsipnya non-blok dan bebas aktif dalam hubungan luar negeri. Ia pun rajin membina hubungan dengan negara-negara Blok Timur (Lawan Amerika).(Baskara T,Wardaya.2007.hal 85). Sementara itu sikap Presiden Soekarno semakin kritis terhadap Amerika. Ia berterima kasih atas segala bantuan negara adidaya itu, tapi pada saat yang sama ia menunjukkan sikap hati-hati. Dalam pidato Kongres (7 Mei 1956)misalnya dengan jelas Soekarno menunjukkan sikapnya. Dalam pidatonya Soekarno meminta pengertian Amerika dan berterima kasih dalam persahabatan dan bantuannya tapi kemudian menamnbahkan,
“Dalam rasa berterima kasih, saya ingin mengungkapkan diri secara terus terang sebagai teman”, lalu ia bertanya “Apakah saya diizinkan untuk berterus terang Bapak ketua sidang?”
Bagi Soekarno bantuan luar negeri itu baik, namun ada sejumlah catatan yang perlu ditambahkan. Katanya
“…dalam dunia Internasional yang telah terbelah seperti ini, kami kami telah berketetapan bahwa darimana pun datangnya suatu bantuan, tak ada bantuan material yang mampu merampas dari tangan kami kemerdekaan yang telah kami perjuangkan mati-matian itu. Bagi kami kemerdekaan itu lebih berharga daripada produk apa pun yang dapat dibeli atau dijual oleh suatu negara…..kami terbuka terhadap berbagai bantuan, namun dengan syarat bantuan itu diderikan demi keuntungan timbal balik. Kami menolak gagasan untuk menggadaikan kemerdekaan intelektual dan spiritual ataupun kebebasan fisik hanya demi uang.” (Baskara T,Wardaya.2007.hal 86 dalam The New York Times, May 18,1956,hal 1,4)
Untuk mencegah partai komunis masuk ke dalam Indonesia, presiden Einshower menerapkan sebuah kebijakan membendung komunisme. Kebijakan tersebut menuntut suatu kerahasiaan Presiden Einshower dan Menteri Luar Negeri banyak bergantung dengan CIA. Perlu diketahui pula  bahwa kebijakan Presiden Einshower segaris dengan kebijakan Amerika terhadap negara di Asia Tenggara. Berbagai operasi besar-besaran tapi rahasia lebih sering diutamakan daripada kebijakan resmi yang tampak.(Baskara T,Wardaya.2007.hal 87 dalam Kahin and Kahin.hal 6),
Pada pemerintahan Nasionalis Cina, mereka mereka menghadapi ancaman komunis. Pada saat kelompok  Komunis dan Nasionalis selesai menhadapi konflik, memenh keutuhannya terjaga. Namun, dibalik itu semua komunis bisa mengambil alih kekuasaan tahun 1949. Sebagaimana dikatakan John Foster Dulles, “Keutuhan teritorial Cina kita jadikan slogan. Akhirnya, kita memeng mendapatkan Cina secara teritorial tetap utuh-tapi demi keuntungan siapa? Keuntungan komunis?” (Baskara T,Wardaya.2007.hal 88 dalam Papers of  John  Foster Dulles, Harvey Mudel Library, Princeton University, Princeton, N.J,sebagaimana  dikutip dalam Kahin and Kahin hal 10). Padahal menurutnya, seharusnya Amerika mendukung Cina untuk mengkonsentrasikan kekeuatan Nasionalis. Dan daerah yang tak bisa dipertahankan dibiarkan dikuasai Komunis yang suatu akhirnya akan direbut kembali. “Pelajaran dari Cina inilah yang menjadikan satu titik operasi rahasia Amerika terhadap Indonesia tahun 1950-an. Dalam pandangan pemerintah Eisenhower lebih baik Indonesia dipecah menjadi beberpa bagian daripada jatuh ketangan Komunis.
Pada saat itu presiden Eisenhower beserta kawan-kawannya dan dua saudaranya takut apabila Indonesia jatuh ketangan komunis. Pada 8 September1957 pembangkang mengumumkan deklarasinya “Piagam Palembang” yang ditanda tangani oleh tiga pemimpinnya. Namun, pada tanggal 5 Februari 1958 ultimatum mereka ditolak, dan akhirnya mereka menyatakan memisahkan diri dari pemerintah RI. Dalam pemerintahan Eisenhower banyak yang gembira karena mereka memandang sebagai kesempatan untuk menggeser komunis ke non-komunis. Guna mencapai tujuan itu, mereka pun mengembangkan suatu kebijakan yang arahnya, “Menhancurkan PKI, perlemah kekuatan AD di Jawa, dan sejauh mungkin membatasi gerak, kalau bukan sepenuhnya menurunkan Presiden Soekarno.”(Baskara T,Wardaya.2007.hal 91 dalam Kahin and Kahin.hal 17).
BAB III
GERAKAN-GERAKAN CIA

A.   CIA Dalam Konferensi Asia-Afrika

Beberapa  tahun sebelum terjadi pemberontakan dinas rahasia AS pernah melakukan aktivitas rahasianya. Misalnya saat penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 1955. Dan operasi ini dimulai dari inisiatif Soekarno yang akan mengadakan Konferensi di Bandung. Yang akhirnya para calon peserta sepakat dengan gerakan non-bloknya. Apabila itu bener terjadi, itu semua merupakan tantangan untuk membentuk SEATO yang di seponsori oleh AS yang bertujuan untuk membendung pengaruh Komunis. CIA kemudian mempertimbangkan cara untuk mengagalkan KAA. Selama bertahun-tahun rencana tersebut tersimpan sebagai rahasia. Semua terbuka pada tahun 1975 ketika sebuah komisi senat menyelidiki operasi CIA. Mendengar suatu kegiatan yang berkaitan dengan agen di negara-negara Asia Timur. Dan menurut kesaksian itu CIA mengusulkan suatu rencana untuk membunuh Soekarno guna mengacaukan KAA namun kesemuanya itu ditolak sepenuhnya. Akhirnya KAA berjalan sesuai persiapan.

B.   Bantuan Untuk Masyumi

Campur tangan CIA juga pernah dilakukan berkaitan dengan diselenggarakannya Pemilu 1955. Tujuan utamanya adalah mengacau PNI dan PKI. Para agen CIA di Indonesia merasa perlu bahwa Amerika memberi dukungan finansial yang amat besar kepada partai tersebut. Smith-yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Ketua Cabang CIA untuk Devisi Asia Timur-mengakui bahwa sumbangan sebesar satu juta dollar AS itu untuk sebuah partai politik bukan hal yang biasa. Oleh karena itu, supaya kelak tidak ketahuan,CIA menggunakan takik “Complete Write-Off”, yakni tiadanya permintaan pertanggungjawaban atas bagaimana uang itu akan digunakan. “Saya sama sekali tidak tahu bagaimana dan untuk apa akhirnya uang satu juta dollar itu digunakan oleh Masyumi.” (Baskara T,Wardaya.2007.hal 103 dalam Smith,h 210-211). Yang akhirnya proyek itu gagal total.

C.   CIA dan Pemberontakan Daerah

Semakin kuatnya pengaruh PKI, pada tahun 1957 CIA ikut langsung melibatkan diri dalam pemberontakan melelui operasi rahasia yang membutuhkan dukungan dari Pentagon. Untuk mendapatkan izin CIA menentukan kebijakan luar negeri AS. Saat  di Indonesia terjadi perkembangan mengkhawatirkan. Dalam pemilu daerah 1957, PKI mendapat suara luar biasa. Bahkan Menteri Luar Negeri Christian A.Herter mengatakan dia prihatin apa yang terjadi di Indonesia karena pemerintahan demokratis telah dilempar keluar jendela.(Baskara T,Wardaya.2007.hal 107 dalam FRUS, Vol XXII,Doc.240,h 400). Dalam rapat Herter mendesak dipertimbangkannya konsekuensi seandainya Jawa dan Sumatra dipisah dari bagian Indonesia. Karena semua itu akan berguana untuk Indonesia di masa depan. Pada 2 Agustus 1957 Pembantu Luar Negeri untuk UrusanTimur Jauh Walter S. Robserton menyatakan keprihatinannya kepada Dubes Amerika untuk Indonesia John M.Allison atas situasi yang memburuk di Indonesia.

D.   Pencopotan John Allison

Semua keprihatinan menjadi alasan tambahan bagi CIA untuk menyakinkan pemerintahan Presiden Eisenhower tentang keseriusan CIA dalam masalah komunisme di Indonesia. Berkaitan dengan itu semua mereka menganggap bahwa Dubes Allison menjadi sebuah halangan untuk rencana mereka. Karena saat itu Amerika khawatir mengenai meningkatnya pengaruh komunisme di Indonesia. Malah-malah Allison mengatakan bahwa meskipun Indonesia secara resmi menganut politik bebas aktif orang Indonesia akan tetap berpaling dengan Amerika dan yang mereka butuhkan bukan saja bantuan militer dan teknis tapi hubungan antar manusia juga. Selain itu Indonesia kecewa karena tampaknya Amerika sedang mengabaikan tradisi sendiri ( bekas negara jajahan) dan malah bergabung dengan negara-negara kaya. Allison yang menjabat sebagai Dubes Amerika sejak 3 Maret 1957 menyatakan bahwa seharusnya mendukung pemerintah Indonesia karena pengaruh non-komunis paling besar tetap berada pada kabinet. Selanjutnya Dubes Allison merekomendasikan kepada pemerintah Amerika supaya memberikan bantuan ekonomi dan alat-alat militer. Allison juga menyatakan keberatan kalau CIA terlibat dalam urusan Indonesia.
Bagi operasi CIA, Allison telah menjadi sumber masalah. Bahkan ia telah mengajukan pertanyaan menjengkelkan bagi CIA. Sebagai reaksi, dalam berurusan dengan Dubes yang “keras kepala” macam ini CIA menggunakan taktik lama yang sudah mereka pakai  (Baskara T,Wardaya.2007.hal 110). Kecewa dengan Dubes AS di Indonesia yang bekerja belum ada saty tahun itu, orang-orang CIA mendesak Allen Dulles (Direktur CIA) agar kakaknya mencopot kedudukan Allison dari kedudukannya. Yang akhirnya  John Foster Dulles memenuhi permintaannya itu. Pada akhirnya Allison ditarik dan digantikan oleh Howard P.Jones yang membahagiakan bagi CIA.

E.   CIA dan Peristiwa Cikini

Pada tanggal 30 Novenber 1957 CIA meleksanakan operasi rahasia dan mencoba membunuh Presiden Soekarno. Namun Presiden Soekarno selamat dan ada 10 orang tewas. Siapa pelaku peledakan granat tersebut belum diketahui. Dalam rapat NSC 5 Desember 1957 direktur CIA masih ragu pada laporan yang menyatakan bahwa komunislah yang ada dibalik itu semua. Akhirnya situasi tersebut di manfaatkan oleh agen CIA dan menyebarkan isu bahwa komunislah otak dari semua itu. Akhirnya diketahui pula bahwa pelakunya adalah anggota sebuah kelompok agama tertentu yang tak ada kaitannnya dengan CIA maupun PKI.

F.   Allen Dulles, NSC dan Pemberontakan Daerah

Dalam rapat NSC (National Security Council) Allen Dulles mengatakan apa pun yang terjadi di Indonesia khususnya luar Jawa semua tak terhindarkan. Setelah usai rapat NSC Allen Dulles dan Wakil Menlu Herter ingin bertemu dengan Presiden Eisenhower untuk membicarakan situasi di Indonesia. Namun, pertemuan itu tak terjadi. Dan apapun isi pembicaraan itu, pemerintah pusat Indonesia dengan tegas menolak ultimatum pemberontak. Jendral Nasution memecat pemimpin pemberontakan, yaitu Ahmad Husein dan para pendukungnnya juga dipecat. Dari Washington, Allen Dulles mengikuti perkembangan di Indonesia dengan seksama dan selalu mendapat laporan terbaru dari CIA (Baskara T,Wardaya.2007.hal 115).
Dalam menjalankan misinya CIA diuntungkan oleh kehadiran militer AS yang datang ke Asia Tenggara di tambah kehadiran Inggris yang menyediakan markas operasi di Singapura yang dekat dengan Sumatra. Pada bulan-bulan pertama pemberontakan, CIA menyediakan sejumlah pesawat beserta para pilotnya guna menjalankan tugas penembakan dan pengeboman atas lokasi pertahanan pemerintah RI. Pada Mei 1958 salah seorang pilot pengebom kapal tanker Inggris San Flaviano yang berlabuh di Balik Papan. Sebuah kapal Indonesia Aquilla, dan kapal barang Italia Ambonia, kapal Yunani Armonia, dan kapal bebendera Panama Flying Lark. Orang-orang di wilayah tersebut mengetahui bahwa pesawat itu milik Amerika. Seorang awak kapal Flaviano yang selamat mengatakan “Jangan bohongi saya dengan mengatakan bahwa Amerika tidak terlibat dalam serangan-serangan tersebut” (Baskara T,Wardaya.2007.hal 117 dalam Time, May 12,1958 hal 33).

G.  Penangkapan Allen Pope

Ternyata pemberontakan itu tidak sesuai dengan rencana CIA. Saat itu CIA membantu para pemberontak dengan menngkatkan serangan di Maluku. Presiden Soekarno pun mencurigai adanya pihak ketiga yang ikut campur  tapi tidak menyebutkan secara khusus. Dan apa yang dikatakan Bung Karno itu segera terbukti, kaerna saat melakukan pemberontakan itu sebuah pesawat pemberontak tertembak dan jatuh. Ketika pesawat ditembak pilot (Allen Lowrence Pope) dan ko-pilot sempat melompat dari pesawat dan selamat. Ketika dimintai tanggapan atas tertangkapnya pilot CIA itu, Dubes Amerika untuk Indonesia Howard P.Jones hanya bisa memberikan pernyatan standar. Ia ulangi saja kata-kata Presiden Eisenhower yang menyangkal keterlibatan AS. Dan menyadari tertangkapnya personel militer Amerika itu bisa dijadikan berita dunia. Pada kesempatan konferensi pers Pope di umumkan kepada Publik angkatan udara AS yang bekerja untuk institusi penerbangan milik CIA. Yang jelas pengungkapan identitas Pope menjadi kesempatan untuk menunjukan bahwa AS terlibat dan mendukung pemberontakan daerah.

H.  CIA Menarik Diri

Sebelum tertangkapnya Pope, Dubes Jones sudah mengusulkan agar Amerika menarik diri saja. Karena selama inin operasi-operasi itu telah menimbulkan reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk pihak-pihak yang sebenarnya bersimpati kepada para pemberontakan. Sebagaiman Dulles melapaorkan dan menenrangkan latar belakang usaha Amerika untuk mendukung dan mempengaruhi kalangan militer maupun sipil di Indonesia guna mengambil langkah untuk menghentikan kecenderungan negeri itu yang semakin berorientasi komunis. Sementara itu komunis para pemberontak mengalihkan kekuatan ke Sulawesi dan Maluku, namun disana dikalahkan oleh tentara pemerintah. Saat melakukan pemberontakan di Sulawesi sudah menampakan tanda-tanda menyerah dan melakukan negosiasi,namun Presiden Soekarno menolak. Semua itu terjadi dan membuat CIA kecewa dan harus mengevaluasi kembali operasi-operasinya untuk mendukung pemberontakan. Ditambah dengan tertangkapnya Allen Pope yang terbukti berkaitan dengan dinas rahasia itu.
Pertengahan 1958 diam-diam CIA mulai menarik dukungannya. Sehingga kekuatan pemberontak semakin berkurang. Bersamaan dengan itu secara resmi diakhiri pula dukungan Pemerintahan Eisenhower terhadap pemberontakan di Indonesia. Seperti di tulis Audrey dan George Kahin, “Pada pertengahan 1958 Pemerintahan Eisenhower dipaksa untuk mengakui bahwa proyek campur tangannya di Indonesia  telah gagal total” (Baskara T,Wardaya.2007.hal 131). Pelan tapi pasti pengakuan itu dilanjutkan dengan rencana untuk mengakhiri proyek yang tak berhasil itu.  Sejak adanya rapat Departemen Luar Negeri AS bantuan untuk pemberontakan benar-benar telah dikurangi dan mulai mendukung pemerintah pusat di Jakarta. Perubahan atas kebijakan itu terjadi ketika Pemerintahan Eisenhower menggantungkan diri pada laporan-laporan dari kedutaan besar AS di Jakarta, dan bukan lagi pada CIA kelompok gugus tugas Inderdepartemen yang dipimpin mantan Dubes Hugh Cumming Jr.(Baskara T,Wardaya.2007.hal 132). Berkaitan dengan itu Washington baru menyadari bahwa militer di Indonesia tidak hanya non-komunis tapi juga anti-komunis.
Sangat sulit dipungkiri pula bahwa memang Amerika ikut terlibat dalam pembunuhan massal yang berlangsung sejak akhir 1965. Dan semua itu terlihat begitu jelas dan tak mengherankan bahwa pada tahun 2001 lalu CIA dan Pemerintah Amerika bersusah payah menarik kembali publikasi sejumlah dokumen dalam serial Foreign Relations Of The United States yang berkaitan dengan semua itu. Namun, syukurlah pelarangan itu diumumkan sejumlah buku yang sempat terbit.
DAFTAR PUSTAKA

·                 T. Wardaya,Baskara.2007.Bung Karno Menggugat!G30S.Yogyakarta;PT Buku Kita
·               Ricklefs,M.C.2008.Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.Jakarta;Serambi


KETERLIBATAN AMERIKA DALAM PEMBERONTAKAN DI INDONESIA TAHUN 1965
Title Post: KETERLIBATAN AMERIKA DALAM PEMBERONTAKAN DI INDONESIA TAHUN 1965
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Author: Nur Nazama